Nelayan pergi melaut,

Pulang bawa cecurut.

Gembira hati melarut.

Di pajak,

ikan tak layak.


Nelayan pergi melaut,

Pulang bawa badut.

Riang pelan meraut,

Di pajak,

ikan tak layak.


Nelayan pergi melaut,

Pulang bawa kuwe rambut.

Lega ia terhanyut.

Di pajak,

ikan tak layak.


Nelayan enggan melaut,

enggan pulang merengut



*Pajak = Pasar (Sumatera Utara)
——–

Happy World Press Day!

Ini adalah puisi yang aku buat di tahun 2012. Pada saat itu, aku baru saja memulai karir sebagai jurnalis di sebuah koran nasional. Aku payah banget waktu itu (sekarang juga sih). Setiap pulang liputan dan budgeting ide berita, aku selalu kena omel editor: “Ini beritanya yang penting apa?”. Padahal menurutku ideku paling keren sedunia haha. Maklum, amatir.

Setelah dua minggu liputan dan beritaku tak ada yang naik, akhirnya aku cuma duduk bengong di cubicle. Hari itu rasanya aku ingin menyerah pergi liputan dan jadi wartawan, tapi tidak mungkin karena kecintaan dan segudang alasan teknis. Rasa kesalku akhirnya aku alihkan jadi permainan kata. Frustrasiku sebagai wartawan pemula aku analogikan sebagai nelayan. Iya, ikan-ikan yang aku sebut di atas bisa saja bukan ikan yang biasa ditangkap nelayan. Aku bahkan tidak tahu wujud mereka. Tapi justru itu poinnya. Peace.

 


Comments

One response to “Nelayan”

  1. […] It was a difficult period. But, well, I am still in the industry anyway.Here is the original poem: https://jijilubis.blog/2020/05/02/nelayan/ […]

    Like

Leave a comment