Dear, dears.
Thanks for the advice, it’s not that I’m not listening, but…
I cannot hurry the seasons of my life.
There is phase after phase I have to go through.
There’s a time when I must let the wind carry me over before I find the right place to set my feet on the ground and settle down.
There’s a time I have to let happiness, anger, sadness, pain.. taking me on to get wiser, tougher and stronger.
There’s also this time when I have to live carelessly and freely, before acknowledging what is restraint and responsibility.
Try to look back, you might have gotten through the state I’m currently in and the phases you went through are what have shaped you now.
Or you might haven’t. Or maybe we simply have different kinds of paths to walk on.
But, whatever. Bad or good, beautiful or ugly, however I react to all the vibes:
It’s my time now, and so will it be tomorrow.
Regards,
the 23-year-old me
–0–
Dulu, waktu aku baru lulus kuliah dan mendapat pekerjaan pertamaku, aku berada di lingkungan yang isinya kebanyakan orang-orang yang lebih tua dari aku. Termotivasi untuk tidak lagi dibilang ansos, aku mencoba lebih ramah dan lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang di sekitarku. Agaknya aku salah langkah, atau memang karena aku socially-awkward, aku menimbulkan kesan yang berbeda dari yang ingin aku tunjukkan. Aku kekanak-kanakan, kata mereka. Apapun yang aku lakukan, dari mencoba sebaik yang aku bisa hingga, bersikap ceria, berkeluh kesah, becanda, menjauh, mendekat, selalu menjadi sasaran kritik. Bahkan hal-hal yang aku lakukan untuk menenangkan diriku sendiri, yang tidak ada pengaruhnya untuk orang lain, juga salah. Aku tidak pernah luput dari komentar.
Tulisan ini adalah sebuah sikap. Sikap untuk menunjukkan bahwa starting on my 23th birthday, I’d stop giving a fuck on whatever you say about me.
Belakangan, karena tuntutan kuliah, aku banyak berinteraksi dengan orang-orang yang jauh lebih muda dariku. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan jadi orang yang mencampuri keinginan orang lain. Bukan berarti bahwa aku lebih tua, artinya aku bijaksana. Bukan tempatku untuk membuat orang lain tidak bisa menikmati menjadi dirinya sendiri. Semua hal ada masanya. Paling tidak itu pelajaran yang paling berharga yang kudapat dari masa-masa itu.
Sekarang, 31-year-old me ingin berpesan pada gadis muda yang menulis tulisan ini sambil menangis tengah malam: Well done, girl. Whatever you have achieved. Doesn’t matter if they see you as less than them, don’t let them become your standard. You are here, now, and you are you.


Leave a comment