Menulis itu therapeutic. Titik.*

*Dibuat sebagai refleksi pertengahan #31HariMenulis

Rupanya tidak butuh waktu lama buat orang-orang untuk mencurigai bahwa tulisan yang aku posting di blog ini tempo hari terinspirasi dari kisah nyata yang kualami sendiri. Aku tidak akan mengiyakan atau menyanggah. Yang jelas ada fiksi di sana, dan ada fakta yang bisa dialami siapa saja.

Terus terang, awalnya aku ragu untuk mengunggah tulisan tersebut. Jangankan mengunggahnya, menulisnya saja butuh waktu bertahun-tahun karena terlalu emosional bagiku. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, laptop berganti laptop, yang jelas ide yang terus menerus menari dalam kepalaku itu baru selesai dua bulan lalu. Aku berpikir, betapa tidak nyaman dan mengerikan rasanya jika ada orang yang mengaitkan tulisan tersebut padaku secara personal, dan kemungkinan itu ada.

Tapi anehnya, aku menulis apa yang sedang kutulis sekarang ini sambil tertawa-tawa. Takjub bahwa dugaanku nyatanya benar, tapi bukan takut dan tidak nyaman yang kurasakan.

Iya, tulisan tersebut adalah tulisan yang aku sebut di unggahan pertamaku untuk proyek #31HariMenulis. Tulisan yang sangat sederhana tapi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk  mengerjakannya. Tulisan yang begitu menguras energi tapi ketika selesai, membuatku begitu lega dan enteng.

Ada begitu banyak hal yang berubah hampir dua bulan setelah aku menuliskan cerita itu. Hanya dalam waktu dua bulan, ada hal-hal yang sebelumnya ingin aku lakukan tapi tidak bisa, kuselesaikan dalam sekejap mata. Hanya dalam waktu dua bulan, bayang-bayang yang terus menghantuiku selama 10 tahun terakhir perlahan menjauh. Hanya dalam waktu bulan, aku tiba-tiba merasa menjadi pribadi yang berbeda. Pribadi yang lebih kusukai dari pribadiku sebelumnya. Bodo amat jika orang suka atau tidak dengan pribadi baruku, tapi diri ini yang aku ingin lihat. Diri seperti ini yang bisa aku terima dan aku cintai.

Dan dari situ aku belajar begitu kuatnya kata-kata. Begitu kuatnya jajaran huruf yang membentuk kata dan kalimat dalam merajut makna. Nyatanya, di dunia ini ada hal-hal yang begitu membuncah dan menyesakkan di dalam dada, terhenti di lidah, dan mengalir hanya dalam coretan dan ketikan. Nyatanya, di dunia ini ada suara yang tidak mengalun ke daun telinga, tapi begitu dekat dengan hati ketika ditulis dan dibaca.

Menulis itu menenangkan. Menulis itu melegakan. Menulis itu adalah sebuah media pertemuan, antara penulis dan pembaca, dan antara penulis dengan dirinya yang jauh terkubur di dalam sana.


Comments

Leave a comment