
Di Hari Buku Nasional ini, aku sudah bertekad untuk membicarakan buku yang aku sukai. Sayangnya, ketika aku menengok rak bukuku, hampir semua bukuku ternyata berbahasa Inggris. Pun dalam kindle-ku. Bukan aku mau keminggris. Bukan aku memandang rendah Bahasa Indonesia. Masalahnya, tuntutan pekerjaan memaksaku untuk memperkaya kosakata dan kecakapanku untuk menulis dalam bahasa tersebut. Karenanya, mau tidak mau aku mengumpulkan banyak buku asing untuk dijadikan hiburan sekaligus referensi. Aku tidak sejago orang-orang yang mahir menulis menggunakan dua atau lebih bahasa. Kalau aku sering menulis dengan Bahasa Inggris, struktur tulisan dalam Bahasa Indonesia-ku jadi berantakan. Juga sebaliknya. Masalahnya, untuk urusan tulis menulis sebagai pekerja lepas, permintaan yang masuk lebih banyak dalam Bahasa Inggris. Kalau sudah demi perut dan cuan, aku bisa apa?
Tapi mungkin itu cerita lain waktu, lumayan untuk menambah tema #31HariMenulis-ku.
Baiklah. Lanjut soal Hari Buku Nasional. Setelah membongkar rak bukuku, aku menyadari bahwa buku fiksi berbahasa Indonesia yang terakhir aku beli, selain buku-buku kumpulan cerpen Kompas, adalah “Robohnya Surau Kami” oleh A. A. Navis. Dari sini saja sudah kelihatan jelas bahwa aku adalah penggemar antologi cerita pendek, terutama dari Kompas, haha. Kalau tidak salah, Robohnya Surau Kami ini aku beli di tahun 2011. Aku membeli buku ini karena begitu melihatnya terpampang di rak buku Gramedia, aku merasa gelombang nostalgia. Begitu melihatnya terpajang di rak buku-buku fiksiku yang kini diselimuti debu, perasaan tersebut bangkit kembali. Habislah hariku yang harusnya digunakan untuk menyicil tumpukan paper UAS untuk membaca kembali kumpulan cerpen ini.
Siapa sih yang tak kenal A. A. Navis, sastrawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah Indonesia? Oke, kalimat barusan hanya jiplakan dari cover belakang buku ini. Tetapi, aku rasa kebanyakan millennials di Indonesia minimal pernah membaca nama atau cerpennya di Buku Paket Bahasa Indonesia. Semenjak dekade 1990-an hingga akhir hayatnynya di 2004, cerpen A. A. Navis hampir tidak pernah luput dari koleksi Cerpen Terbaik Kompas. Belum lagi sejumlah prestasi dan penghargaan yang telah dikumpulkannya.
Lucu juga sih rasanya bahwa di antara demikian banyak karya kontemporer, aku memilih untuk membahas A. A. Navis yang cerpen pertamanya diterbitkan tahun 1955. Aku memang kurang referensi, tapi aku merasa kritik sosial yang dihasilkan oleh karya-karya Navis ini tidak akan pernah usang. Cerpen “Robohnya Surau Kami” sendiri masih sangat relevan dalam membahas fenomena di masa kini, utamanya dengan menguatnya fundamentalisme agama di tengah individualisme masyarakat modern. Bukan bermaksud SARA maupun Zaenab, tapi cerita Haji Saleh yang berakhir di neraka karena hidupnya hanya beribadah saja, mengingatkanku akan bagaimana orang-orang – dari agama apapun – memaksakan untuk tetap berkumpul dan beribadah di tengah himbauan jaga jarak selama pandemi. Karakter Ajo Sidi yang empatinya dipertanyakan karena mendahulukan pekerjaannya juga mengingatkan pada bagaimana ada saja manusia yang mementingkan duniawinya dalam kondisi wabah ini. Baikkah mereka? Burukkah mereka?
“Anak Kebanggaan”, “Topi Helm”, dan “Pada Pembotakan Terakhir” adalah cerpen-cerpen favoritku dalam buku ini, selain cerpen “Robohnya Surau Kami” sendiri tentunya. “Anak Kebanggaan” membuatku sangat bersimpati pada tokoh Ompi, ayah yang mengirimkan anak kebanggaannya untuk merantau ke Jakarta dan menjadi dokter. Dari sini, aku melihat bahwa kadang kebohongan, termasuk pada diri sendiri, lebih mudah dihadapi dari kenyataan. Hal yang sama juga berlaku pada “Topi Helm”. Pak Kari, tukang rem kereta yang bangga dapat warisan topi dari bekas mandornya, membuatku berpikir bahwa berpura-pura menjadi orang lain kadang bisa membuat kita kabur dari kerasnya realita. Sementara, “Pada Pembotakkan Terakhir” membuat aku ingin menjerit, betapa dunia ini kerap tak adil. Cerpen ini menceritakan tentang child abuse dari mata anak-anak.
Hal yang aku sukai dari cerpen A. A. Navis adalah betapa sederhanda dan luwes kata-katanya. Setelah berkutat dengan biografi-biografi A. A. Navis, aku juga baru tahu bahwa beliau memutuskan untuk selamanya tinggal di tanah Minang dan tidak melakukan tradisi merantau yang erat dengan suku tersebut. Situs Kemdikbud menyebutkan bagaimana Navis melihat bahwa “merantau hanyalah soal pindah tempat dan lingkungan, tetapi yang menentukan keberhasilan tetaplah kreativitas itu sendiri”. Ini jujur membuatku sangat kagum, sih. Rasanya jadi teringat ketika Bong Joon-Ho mengutip kata-kata Martin Scorsese di perhelatan Academy Award tahun ini: “The most personal is the most creative”. Walaupun kental dengan nuansa Minang, pesan-pesan yang bisa dipetik dari cerpen Navis sangatlah universal.
Terakhir, cerpen A. A. Navis selalu membuatku melihat bahwa manusia itu masing-masing ada kurang lebihnya. Terutama pada “Anak Kebanggaan” dan “Topi Helm”, ceritanya kerap membuatku merasa bersimpati dan iba pada kekurangan dan sifat buruk karakter-karakternya. Manusia itu memang tempatnya alfa, begitu pikirku dalam hati setiap menutup cerpennya.


Leave a comment