(sebuah puisi tentang pandemi)
Selamat pagi, Bapak.
Semoga semalam tidurmu nyenyak.
Tak seperti tidurku,
yang serasa dirundung sembilu.
Pak, aku sungguh khawatir,
melihat orang berkerumun melawan takdir.
Hatiku sungguh getir,
ingin berteriak menyuruh mereka menyingkir.
Adikku dokter, pak.
Begitu pula istrinya.
Anak mereka,
belum genap tiga umurnya.
Tiap hari mereka menyabung nyawa,
sementara teman-teman mereka bertabur bunga,
di atas pusaranya.
Mereka tinggal dengan ibu dan ayahku, Pak.
Ibuku enam empat umurnya,
tapi ia masih rajin berkarya,
mendidik anak bangsa.
Jika kau suruh ibuku bekerja,
apakah umurnya nanti akan sampai enam lima?
Ayahku tahun depan sudah tujuh puluh.
Jika ia terciprat peluh,
oleh orang yang sudah luluh,
oleh virus yang enggan berlalu,
karena kau bilang berdamai itu perlu,
apakah hal yang terakhir kulihat dari ayahku,
adalah senyumnya yang pilu?
Bapak, kakakku abdi negara.
Panggilan tugas membuatnya,
mesti berjaga di kantornya.
Tempo hari uji labnya,
menunjukkan dia harus waspada.
Pak, kami harus bagaimana?
Pak, kadang aku melamun,
mungkin lebih baik,
aku ikut berkerumun,
ikut naik bersama statistik.
Karena daripada tak punya harta,
aku lebih khawatir tak punya siapa-siapa.
Apakah bapak penguasa,
tak merasakan hal yang sama?



Leave a comment