Mau pelihara kucing (ras)? Coba dipikirkan dulu secara finansial, waktu, dan tenaga

Sebelumnya, mohon maaf kalau tulisan ini terlihat menggurui. Tetapi, aku rasanya sudah sebal sekali melihat owner kucing yang menganggap peliharaan mereka itu mainan.

Oke, tulisan ini dibuat hanya untuk mereka yang berperikebinatangan. Buat mereka yang masih berpikir bahwa binatang peliharaan kalau sudah tidak lucu bisa dibuang, silakan out. Aku tidak berharap macam-macam. Paling cuma suatu hari ketika kamu tidur, kamu mimpi buruk bertukar peran dengan hewan peliharaanmu. Kamu merasakan bagaimana rasanya kamu yang sebelumnya gampang mencari makan, sering dibelai, sangat teritorial… kini harus tinggal dengan orang-orang asing, atau lebih parahnya, berebut makan di jalan dan berusaha menghindar dari kebrutalan manusia dan ancaman terlindas kendaraan.

“Kan cuma kucing?” Doh. Please. Sudah banyak riset diluar sana yang menunjukkan bahwa kucing juga memiliki perasaan layaknya manusia. Mereka bisa senang, sedih, marah, tertekan, bahkan memiliki masalah mental seperti depresi dan kecemasan. Educate yourself!

Eh, maaf. Aku kalau sudah ngomongin kucing memang bawaannya jadi galak.

Anyway, tulisan ini dibuat untuk mereka yang bisa menganggap hewan peliharaannya sebagai bagian dari keluarga dan sedang berpikir untuk mengadopsi kucing, utamanya kucing ras berbulu panjang. Dari pengalamanku memelihara lima ekor kucing Persia – yang berawal dari keteledoran – nyatanya memelihara kucing membutuhkan lebihan dana, waktu, dan tenaga. Bukan berniat menggurui, tapi demi kenyamanan kamu dan anak bulunya, ada baiknya dipikirkan dulu beberapa hal sebelum memutuskan mengadopsi kucing.

Pertama, kenapa kucing ras harganya mahal? Kenapa sih harus mengeluarkan uang untuk mengadopsi kucing, padahal yang gratisan banyak?

Kalau breeder ataupun rescuer-nya benar, artinya mereka yang tidak hanya berpikir untuk mencari profit atau asal lepas kucingnya saja, kucing yang kamu angkat pasti akan dirawat dulu oleh mereka. Kadang, nominal uang yang dikeluarkan itu adalah untuk melihat kesanggupan dan komitmen calon owner untuk merawat kucing. Kalau mengeluarkan uang untuk mengadopsi saja ogah, apa kabar makanan, vaksin, dan biaya berobat ketika sakit? Pada akhirnya, uang mahar ini dilihat sebagai kesungguhan calon owner untuk merawat dan meyakinkan bahwa kucingnya nanti akan dirawat baik-baik karena sudah mengeluarkan nominal begitu. Anggaplah ini ganti uang makan. Ganti merawat hingga mereka lepas ASI.

Kalau sudah ngomongin soal uang mahar, kemampuan memberi makan dan memvaksin jadi tantangan berikutnya. Jangan sekadar berpikir, kan tinggal kasih nasi?

Maaf, bapak, ibu, mas, dan mbak sekalian. Aku bukannya anti nasi ya. Nasi sesekali diberi ke kucing tidak apa-apa, tapi ada baiknya tidak berbumbu. Nasi kadang membantu pencernaan kucing juga. Namun, karbohidrat bukanlah sesuatu yang dibutuhkan kucing. Kalau cuma diberi makan nasi, takutnya nutrisi mereka tidak terpenuhi dan sakit-sakitan. Apalagi kalau kucingnya berbulu panjang. Memberi makan nasi itu seperti membuka pintu untuk bulu rontok dan jamur. Manusia saja tersiksa sama panuan. Apa kabar kucing yang tidak bisa memberi salep atau pergi ke dokter sendirian?

Selain itu, makanan manusia tidak selamanya baik buat kucing. Sama saja kaya manusia tidak bisa makan semut dan rayap seperti trenggiling.

Sudah banyak makanan khusus kucing dijual di pasaran. Walaupun begitu, memperhatikan kadar nutrisinya tetap penting. Kebetulan, aku memberi makan kucingku dengan satu merek yang kerap disebut-sebut orang dan harganya… ya gitu deh. Bukan apa-apa, setelah perhitungan jangka panjang, memberi mereka makanan yang nutrisinya baik justru menghemat uang dan waktu untuk aku bolak-balik pergi berobat ke vet. Apalagi bagi kucing-kucing Persia dan kucing lain berbulu panjang, gangguan pernafasan itu sudah jadi bagian hidup mereka. Aku membeli makanan yang lebih mahal karena dalam jangka panjang, ongkosnya lebih ramah di kantong. Kalau yang hanya memelihara satu atau dua ekor kucing, makanan 4 kg bisa bertahan hingga tiga minggu sampai satu bulan. Buat yang punya lima ekor seperti aku… sudahlah jangan ditanya. Yang jelas anggaran makan mereka lebih besar dari anggaran makanku dan aku harus bisa hemat-hemat di pos-pos pengeluaran yang lain, huhu. Tapi, syukurlah, kucing-kucingku kini amat jarang sakit.

Vaksin adalah hal esensial yang harus diberikan dua kali di tahun pertama hidup mereka dan sekali di tiap tahun berikutnya. Ongkos vaksin juga ga mahal-mahal banget kok. Lebih murah dari beli baju di mall yang jelas, atau setara dengan lima kali ngopi-ngopi cantik di kafe. Namun, vaksin itu penting untuk menguatkan kekebalan tubuh mereka. Leslie, kucing indukanku, pernah menjadi dewi maut karena terserang calici, virus ganas yang bisa mematikan kucing. Leslie selamat, dengan perawatan yang ekstra termasuk makan dan minum yang harus disuapi. Tetapi, anak-anak kucing di tempat aku menitipkan Leslie pada saat itu yang justru meregang nyawa karena tertular Leslie. Sedih kalau diingat, apalagi jika tahu bahwa calici dapat dicegah lewat vaksin tahunan itu. Aku sangat menyesal sudah abai.

Selain itu, keteledoranku sebagai seorang awam yang baru memelihara kucing, membuat kucing jantanku, Ryu, terkena pneumonia. Aku sering membiarkan Ryu berada di halaman belakang pagi, siang, dan malam. Aku pikir, dia pasti senang ya bisa main di antara rerumputan sepanjang hari, berburu di kala malam, dan bebas berlari-lari. Nyatanya, aku salah. Seperti yang sudah aku sebutkan di atas, kucing Persia rawan dengan gangguan pernafasan. Waktu itu, belum ada Leslie. Aku memelihara Ryu berdua dengan Kay. Yang aku tahu, mereka terus-terusan sakit flu. Itu pula yang dikatakan vet kepadaku.

Sampai akhirnya, aku harus mengucapkan selamat tinggal ke Kay untuk selamanya. Dokter yang memeriksa Kay curiga bahwa Kay dan Ryu terkena pneumonia, dan menyarankanku untuk membawa Ryu ke klinik hewan yang menyediakan jasa rontgen. Pneumonia terkonfirmasi, dan Ryu harus berobat selama enam bulan rutin. Tidak usah ditanya habis berapa. Yang aku pikirkan, coba kalau Ryu tidak bersamaku yang rela ga beli apa-apa buat diriku sendiri selama pengobatannya ini. Habis mungkin dia dibuang dan dibiarkan mati di jalan. Bukan sekali dua kali aku mendengar cerita ini. Owner-owner jahat di luar sana, aku doain baik-baik saja, semoga paru-parumu selalu smile 😥

Tapi dari situ, aku belajar untuk selalu memperhatikan nutrisi Ryu. Aku komitmen memberinya makanan dengan gizi terbaik, daripada harus membawanya ke dokter bolak balik. Alhamdulillah, mudah-mudahan yang terburuk sudah berlalu.

Oke, kamu siap secara finansial. Lalu apa lagi? Berhamburan harta saja tidak cukup untuk bisa memelihara kucing. Komitmen waktu dan tenaga serta pola pikir jangka panjang juga diperlukan. Komitmen waktu diperlukan dalam memberikan perhatian ke kucing. Kucing yang tinggal di rumah saja butuh waktu untuk cuddling atau distimulasi untuk bermain oleh pemiliknya. Gak lama-lama kok, gaes. Paling 20 menit untuk elus-elus manja atau 20 menit untuk main. Kalau kucingmu berbulu panjang, mereka juga harus disisir, agar bulunya tidak rontok atau menggimbal. Bisa disambi nonton Netflix, kok.

Memandikan mereka sebulan atau dua bulan sekali juga perlu. Tenang saja, jika kucingmu yang belum mandi sebulan dibandingkan dengan kamu yang belum mandi seharian, kamu tetap lebih kotor dan banyak bakteri. Sumbernya ada dimana-mana, baca sendiri ya.

Terakhir, soal pola pikir jangka panjang. Ada baiknya, jika kita bekerja dan sering tidak ada orang di rumah, untuk mengadopsi dua ekor kucing. Walaupun, perlu dicatat, kucing bukan tipikal peliharaan yang butuh teman. Hanya saja, jika yang kamu adopsi dua ekor kucing jantan, siap-siap saja jika nanti mereka besar akan terjadi perebutan kekuasaan. Jika kamu mengadopsi kucing yang berbeda jenis kelamin, siap-siap dengan munculnya tambahan anabul-anabul, dan ini terjadi di aku. Tolong juga bersiap bahwa, ketika kucing birahi, mereka bisa tiba-tiba pipis sembarangan dan meraung-raung minta keluar atau memanggil pasangan.

Aku sudah sering dengar cerita kucing yang dibuang atau dilepas adopsi karena pemiliknya tidak siap dengan kegaduhan yang timbul ketika kucingnya birahi, dengan bulu bertebaran dimana-mana, atau dengan tiba-tiba bertambahnya jumlah kucingnya. Seringkali, yang dipilih adalah anak-anak kucing barunya yang dirasa lebih lucu dari orangtuanya. Mau sampai kapan begitu? Semua kucing pada akhirnya tumbuh besar juga. Kalau kamu tidak siap, mending main Tamagotchi atau Po saja di handphone. Bebas ribet. Kasian kucing-kucing yang sudah tumbuh ikatan emosional denganmu dan dengan tempat tinggal mereka, kamu alihtangankan atau kamu biarkan bertahan hidup sendiri di jalan. Kalau sudah begini, sekali lagi, kudoakan kamu mimpi buruk bertukar peran dengan kucingmu. Biar kamu merasakan apa yang mereka rasakan.

Lalu, apa solusinya? Steril. Dan steril itu enggak jahat. Steril itu baik buat kesehatan kucing, menambah usia kucing, bisa membuat mereka juga tidak terganggu dengan birahi-birahi yang muncul tiba, dan tentunya tidak bikin kamu pening dengan bau pesing dimana-mana. Tapi ini bahasan lain kali ya. Panjang kalau mesti dibahas di sini.

Sebagai penutup, iya, ribet memang memelihara kucing, apalagi kucing ras. Tapi kalau kamu sayang sama kucingmu, kucing bisa membantu melalui hari-harimu dengan lebih ceria. Kucing juga membantumu melepaskan hormon oxytosin-mu, dan membantu mengatasi stress dan depresi. Kalau kamu ingin memelihara kucing tapi belum sanggup untuk komitmen-komitmen di atas, kucing domestik sebetulnya tidak pernah kalah lucu dan kalah pintar. Walaupun sebagian hal yang aku sebutkan di atas tetap harus diperhatikan, minimal kucing dome tidak perlu terlalu ribet disisiri atau menebar bulu kemana-mana. Selain itu, begitu banyak kucing dome yang butuh rumah di luar sana. Selamatkanlah mereka. Kalau tidak terlanjur memelihara lima kucing Persia di rumah, mungkin sekarang aku sedang menimbun kucing dome. Eh, jangan jadi penimbun kucing. Kasihan, mereka butuh kasih sayang banyak-banyak soalnya.

Sekian saja obrol-obrol tentang kucing ini. Mudah-mudahan membantu mereka yang ingin memelihara kucing untuk hitung-hitung anggaran dan kesiapan mental.

Salam dari Ryu:

EWP_j7PVcAU_0q_

 


Comments

One response to “Mau pelihara kucing (ras)? Coba dipikirkan dulu secara finansial, waktu, dan tenaga”

  1. […] yang aku ceritakan di unggahan sebelumnya, Ryu sempat menderita pneumonia. Saat itu, badan Ryu kurus kering padahal makannya selalu lahap. […]

    Like

Leave a comment