Lebaran dalam realita baru

Karena dalam suasana perayaan, tulisan hari ini singkat saja.

Terus terang, aku sangat menghindari membuat postingan tentang pandemi. Sebagai kelas menengah yang masih tercukupi sandang, pangan, dan papannya… aku merasa obrolan soal pandemi yang muncul dariku bisa saja class insensitive dan membuatku tak ubahnya dari kelas menengah ngehe lainnya. Selain itu, bahasan soal pandemi ini juga sulit dilepaskan dari kasak-kusuk politik dan kritik sosial. Sebisa mungkin, aku tidak mau menyentuh soal itu. Sudah banyak orang di luar sana yang menyuarakan isi kepalaku dan aku pribadi membatasi perdebatan soal ini dalam ranah keilmuan saja (alias, sebagai mahasiswa politik aku sudah muak dengan paper UAS-ku yang semuanya membahas Covid-19).

Ataupun soal lebaran. Sebagai mayoritas, aku mau tidak mau mengakui ada sedikit kecurangan dalam jatah berlibur dan porsi perayaan. Walaupun, dalam situasi normal, aku harus maklum bahwa hal ini erat kaitannya dengan kebiasaan mudik dan macet-macetan di jalan yang kekeuh dilaksanakan masyarakat tiap tahunnya.

Tapi, lebaran kali ini membuatku merasakan fakta bahwa kita kini hidup dalam realitas yang baru. Realitas baru ini menjadi pilihan atau bukan pilihan, tergantung manusianya mau berdamai atau tidak dengan keadaan ini. Makna berdamai pun bisa berbeda bagi masing-masing orang. “Berdamai dengan pandemi” bagi sebagian bisa berarti duduk diam bekerja dari rumah masing-masing. Bagi sebagian lain, berdamai ini bisa berarti beraktivitas seperti biasanya apapun resikonya, bisa karena ada resiko lain yang lebih besar atau karena resiko ini dipandang sebelah mata bagi sebagian.

Buat aku, berdamai dan realitas baruku berkaitan dengan eksistensiku di dunia maya. Dulu, aku menganggap media sosial dan aplikasi kirim pesan hanyalah sebuah realita sampingan. Kalau bisa kuhindari, lebih baik aku menyingkir saja. Kalau bisa bertemu langsung, buat apa bertukar pesan. Terutama soal media sosial, aku kerap menganggapnya sebagai racun. Tidak jarang, sikap suudzon-ku seringkali membuatku berpikir bahwa media sosial hanyalah tempat berpura-pura. Lebih baik bertemu dan lihat aslinya.

Tahun ini, aku menghadapi model kehidupan baru. Karantina mandiri di rumah membuatku mau tidak mau berkutat dengan media sosial untuk menjaga interaksi dengan makhluk-makhluk yang satu spesies denganku. Sesuka-sukanya aku dengan tinggal di rumah saja dan tak bertemu dengan orang lain, nyatanya, layaknya serigala, manusia memang hidup berkelompok.

Awal PSBB kumulai dengan sibuk berkoordinasi soal tugas dan kuliah lewat grup WA. Lalu mulai dengan obrol-obrolan yang lebih santai, dengan orang-orang yang biasanya aku jarang bercakap-cakap dan berlanjut dengan saling berteman di media sosial. Selama pandemi ini, telepon genggamku kerap berdenting dengan adanya permintaan pertemanan baru (yang kadang aku terima, kadang tidak, hehe). Pada akhirnya, media sosial menjadi realitas baruku untuk membedakan hari ini hari apa. Hari kerja kah? Hari libur kah? Akhir pekan?

Termasuk mencari suasana Ramadhan dan lebaran. Melihat postingan masak-masakan teman-teman ketika sahur dan berbuka menjadi rutinitas baruku. Tren kirim mengirim hampers dan memamerkannya di IG story juga menggantikan sesi belanja kebutuhan di supermarket dan melihat hamparan parcels siap kirim disusun cantik di rak panjang. Baik kirim-kiriman hampers atau parcels sama-sama tidak kulakukan, tapi cukup membuatku merasakan, “Oh, ini sudah mau lebaran“.

Hari ini, aku memutuskan tak kemana-mana dan di rumah saja. Namun, melihat sekian unggahan lontong, gulai nangka, opor, rendang, dan kawan-kawan berbusana muslim bersliweran di media sosial, minimal membantu membuatku merasakan bahwa hari ini betul istimewa bagi sebagian dari kita.

Demi merasakan relevansiku dengan kehidupan, mau tidak mau, aku tidak boleh terlalu anti dengan media sosial.

Pada akhirnya, media sosial juga mempertemukanku dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu atau saling sapa di dunia virtual. Aku kerap diomeli teman-teman karena jarang membalas pesan, baik WA maupun DM di media sosial. Tapi entah mengapa, aku sekarang sering membuat unggahan dan mendapat respon kawan-kawan, yang berlanjut dengan obrolan. Atau merespon unggahan mereka. Entah itu kawan SMA, teman kuliah, atau kolega selama liputan.

But it’s not as bad as I thought it was. Aku sebenarnya sudah eneg dengan unggahanku sendiri, haha. Tapi, mau tak mau aku harus mengakui bahwa media sosial yang tadinya kuanggap toxic kini membantu mengaburkan batas-batas dalam jaga jarak sosial selama pandemi dan membantuku menjaga kewarasan. Selain itu, ngobrol dengan teman lama ternyata seru juga, ya. Kadang aku berpikir, mungkin media sosial memang sudah disiapkan untuk menghadapi hari-hari seperti ini.

Sudah. Itu saja sharing-ku hari ini. Sekadar mencukupi tuntutan untuk mengunggah tulisan buat #31HariMenulis.

Akhir kata, Selamat Idulfitri bagi yang merayakan. Selamat bekerja bagi teman-teman yang ditumbalkan. Jangan lupa tuntut hak kalian nanti untuk gantian, hehe.


Comments

Leave a comment