
Dear, Mbak Yohanna.
Sudah genap 3 tahun 10 bulan semenjak Mbak Yo pergi.
Aku tahu “surat” ini akan menjadi surat yang tak pernah terkirimkan. Kini, aku hanya bisa berharap Mbak Yo tenang di alam sana. Mohon maaf kalau sampai hari ini aku masih berat melepas kepergian Mbak Yo. Aku masih sering menangis ketika mengingat Mbak Yo. Dalam tangisanku, ada perasaan rindu dan perasaan bersalah. Aku tahu ini salah, aku minta maaf. Aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf.
Maaf dan terima kasih adalah dua hal yang paling ingin aku sampaikan kepada Mbak Yo. Kini, aku tidak tahu lagi mesti menyampaikan lewat mana.
Mbak Yo, masih jelas terbayang di kepalaku obrolan pertama kita di awal 2012. Siang itu, aku tengah duduk di cubicle-ku, di desk politik koran tempat kita terakhir bekerja. Aku masih bocah yang sedang coba-coba jadi jurnalis, masih berkutat dengan kompetisi untuk menghindari eliminasi dan bisa diangkat sebagai pegawai tetap di kantor tersebut.
Mbak Yo, hari itu, beritaku muncul sebagai headline halaman internasional. Aku bangga, Mbak Yo. Bagiku saat itu, itu adalah sebuah pencapaian. Walaupun, saat aku lihat beritanya, hatiku agak kecut karena ada salah penulisan nama. Ada salah ketik di satu huruf nama narasumber utama beritaku. Aku ingat bagaimana dalam kelas pelatihan kami, kami diajarkan untuk memastikan berulang kali bahwa nama narasumber kami telah ditulis dengan tepat. Pernah ada satu cerita bagaimana seorang narasumber ngambek tak mau dihubungi lagi selama berbulan-bulan oleh koran kami, karena nama beliau sempat salah diketikkan. Untuk beritaku hari itu, aku sendiri yakin aku sudah menuliskan nama narasumberku dengan benar. Bohong kalau aku bilang typo tersebut tak membuatku cemas.
Waktu aku mengangkat kepalaku, kulihat Mbak Yo tergopoh-gopoh berjalan ke arahku.
“Anggi, saya sudah tunggu-tunggu kamu dari tadi,” kata Mbak Yo membuka pembicaraan.
“Saya yang mengedit berita kamu. Saya mau minta maaf ada salah penulisan nama di artikel kamu. Itu bukan kesalahan kamu, itu kesalahan saya. Saya sudah menghubungi orangnya. Saya juga sudah pastikan ke editor dan mentor kamu agar ini jangan sampai mempengaruhi penilaian kamu.”
Mbak Yo, yang aku ingat saat itu aku cuma ternganga. Hingga hari ini, aku tak bisa mengingat aku menjawab apa. Pertama, aku tersentuh karena Mbak Yo tahu nama dan rupaku, seorang calon pegawai biasa, di kantor yang jam segitu masih sangat sepi untuk sekadar bertanya, “Anggi itu yang mana?”
Kedua, aku kaget Mbak Yo meminta maaf. Mbak Yo, aku dan teman-temanku – baik di kantor maupun di lapangan – seringkali berguyon bagaimana maaf dan terima kasih adalah hal yang langka kami dengar dalam profesi ini. Jika ada yang salah, apapun itu, itu salah kami sebagai reporter. Jika ada yang benar, itu hal yang normal. Jika kami lelah liputan dan menulis seharian, itu sesuatu yang diharapkan. Jika ada maaf dan terima kasih terucap ke kami yang stratanya paling rendah di ruang editorial ini, biasanya itu diucapkan terburu-buru sebagai aksesori kalimat. Makanya, aku terkejut sekali melihat Mbak Yo datang kepadaku, meminta maaf dengan tulus, dan dengan wajah penuh rasa khawatir. Aku terkejut Mbak Yo mau membelaku sejauh itu. Aku, yang tidak berada di bawah Mbak Yo secara langsung.
Mbak Yo, walaupun kita sering berpapasan dan saling sapa di kantor, obrolan keduaku dengan Mbak Yo baru terjadi setahun kemudian. Waktu itu, aku ingat aku dikirim untuk meliput kunjungan Perdana Menteri Australia Tony Abbott. Sebagai wartawan yang saat itu meliput sektor agribisnis, aku diutus untuk mengulik tentang impor daging sapi dari Australia yang saat itu sedang menjadi isu panas. Aku berangkat sambil ngedumel dalam hati, karena harus pergi pagi-pagi untuk meliput acara yang diadakan di jam sarapan tersebut. Sampai di sana, aku terheran-heran melihat ada Mbak Yo yang terlihat penuh semangat di sana.
“Anggi,” panggil Mbak Yo menyapa duluan.
“Mbak Yo, kok ada di sini? Nanti yang edit tulisannya Mbak Yo, ya?” aku menjawab dengan pertanyaan.
“Engga, Anggi. Saya di sini liputan juga. Nanti kamu dari sisi ekonomi, saya dari sisi politik,” jawab Mbak Yo.
“Lho, kok ga kirim wartawan saja Mbak?” tanyaku.
“Desk internasional sekarang sedang tidak ada reporternya, Anggi,” ucap Mbak Yo sambil tersenyum, sedikit kecut kulihat. “Nanti, kita saling bantu ya, Anggi,”
Mbak, hari itu aku sangat mengagumi semangat Mbak Yo untuk liputan. Dikelilingi wartawan-wartawan hijau yang penuh stamina, Mbak Yo tidak terlihat kewalahan untuk doorstop dan mengejar Abbott. Semangat kerja Mbak Yo juga tercermin dari bagaimana ketika aku sampai kantor setelah liputan beberapa kegiatan lainnya, Mbak Yo menyerahkan aku hasil transkrip liputan kita tadi. Mbak Yo tidak pernah berhenti membuatku terkejut. Terus terang, saat itu aku khawatir tidak sempat mentranskrip karena banyaknya liputan dan berita yang mesti kutulis hari itu. Sebagai pekerja yang statusnya di bawah Mbak Yo, harusnya aku lah yang mentranskrip pidato dan wawancara liputan kita tadi pagi. Tapi Mbak Yo cuma bilang, “Ini Anggi, sudah saya transkrip. Mudah-mudahan membantu ya.”
Mbak Yo, Mbak betul-betul mengagumkan.
Pada saat itu, aku tidak tahu bahwa tiga tahun kemudian, aku akan dikirim bekerja di bawah Mbak Yo. Aku yang agak bengal ini baru saja menimbulkan keributan di desk ekonomi (haha), desk tempat aku bernaung selama empat tahun. Karenanya, aku digeser ke desk internasional. Aku sih berpikir, “Wah bagus dong, aku dilempar ke desk paling sibuk ke desk yang lebih santai.”
Rupanya aku salah, karena kantor memutuskan kami harus jadi koran yang lebih aktif dalam meliput politik internasional dan aku dianggap memiliki background yang sesuai untuk liputan di sana. Jadilah aku dihukum sekaligus diberdayakan.
Tapi Mbak Yo, hari pertamaku di desk internasional adalah hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Mbak Yo memanggilku ke ruang rapat. Memperkenalkan diri kembali, dan saat itulah kita menyadari bahwa kita satu almamater. Namun, yang tidak kusangka adalah arah pembicaraan kami berikutnya.
“Anggi, saya melihat kamu menangis kemarin,” kata Mbak Yo. “Kamu kenapa?”
Aku tak menyangka aku bakal ditanyai seperti itu. “Iya, Mbak Yo. Saya silap. Saya tahu menangis di kantor adalah hal yang tidak professional,” kubilang.
Tapi rupanya bukan itu yang ingin Mbak Yo katakan. Mbak Yo ingin tahu keadaanku. Mbak Yo bercerita dan memaklumi bagaimana kerasnya kehidupan di kantor kita. Mbak Yo bercerita banyak. Kita ngobrol dari hati ke hati hal yang tidak mungkin aku bahas di sini. Mbak Yo juga berkata betapa senangnya Mbak Yo akhirnya mendapatkan wartawan untuk liputan. Terakhir, Mbak Yo berpesan, bahwa kita bekerja satu tim. Kalau ada yang tidak sreg dengan cara Mbak Yo memimpin, Mbak Yo berharap aku bisa langsung mengkritiknya. “Kita sama-sama belajar ya, Anggi.” Tak lupa, Mbak Yo menutup pembicaraan dengan ucapan terima kasih.
Mbak Yo, dukungan tersebut adalah dukungan yang paling aku butuhkan saat itu. Mbak Yo, hari itu aku pulang dengan hati yang jauh lebih enteng dari bulan-bulan sebelumnya.
Hal yang paling berkesan buatku selama bekerja di bawah Mbak Yo adalah bagaimana Mbak Yo adalah seorang pekerja keras yang selalu berada di kantor sebelum reporter datang, dan pulang tengah malam pada saat kantor sudah sepi. Kadang, aku bertemu dengan Mbak Yo di lapangan. Mbak Yo kerap ikut liputan karena ingin tahu perkembangan suatu isu.
Selain itu, Mbak Yo juga tidak pernah luput mengucapkan terima kasih padaku setiap aku menyelesaikan tulisanku. Terima kasih yang selalu diucapkan dengan sungguh-sungguh setiap aku pamit pulang. Serta, bagaimana Mbak Yo kerap mengucapkan maaf ketika harus mengirimkanku di liputan-liputan dadakan. Permintaan maaf dan terima kasih yang kurasa tidak perlu karena bagaimanapun juga itu adalah tugasku, namun selalu membuatku merasa bersemangat dan dihargai.
Mbak Yo, aku rindu bagaimana setiap pulang, Mbak Yo akan menyempatkan untuk mengobrol denganku dulu. Kadang-kadang, lucu juga ketika Mbak Yo meminta saran dariku, yang hanyalah reporter biasa minim pengalaman dan anak muda yang belum tahu kerasnya dunia. Kadang-kadang Zaki protes, Mbak Yo. Aku bilang aku sudah siap pulang sehingga dia pun menunggu di parkiran, tapi aku baru turun 30 menit kemudian. Tetapi, siapa yang sanggup memotong ketika Mbak Yo bercerita tentang anak Mbak Yo, kesayangan, satu-satunya, dengan mata penuh binar-binar? Aku saja ikut terbawa senang.
Satu hal lagi yang tak akan pernah kulupakan dari Mbak Yo: perhatian Mbak Yo yang luar biasa kepadaku. Aku ingat betul satu hari, saat aku sampai kantor usai liputan di suatu petang, Mbak Yo menghampiriku sambil memintaa maaf. “Anggi, malam ini kayanya kamu harus liputan. Kamu diminta mendampingi Pak Endy untuk wawancara dengan Grand Mufti Al Azhar yang sedang berkunjung ke Indonesia,” ujarnya dengan khawatir. “Maaf ya kamu baru sampai harus pergi lagi. Kamu selesaikan saja tulisanmu yang sekarang sebisamu, nanti saya bantu.”
Aku ingat betul Mbak Yo menyemangati agar jangan tegang karena harus liputan berdua dengan Pak Endy, yang merupakan pemimpin redaksi kita waktu itu. “Saya juga kalau dengan Pak Endy gugup,” kata Mbak Yo.
Tapi yang, mungkin Mbak Yo tidak tahu, aku lebih tegang karena harus liputan Imam Besar Al-Azhar. Dibandingkan dengan direktur, kepala negara, UN envoys, maupun orang-orang penting lain yang pernah kutemui, aku melihat Imam Besar Al Azhar dalam skala yang berbeda. Tak heran kalau yang harus mewawancarainya langsung adalah level pemimpin redaksi. Sementara, Pak Endy adalah mentor pertamaku di kantor dan aku menghabiskan waktu tiga bulan dimarahi dibimbing beliau. Aku pun tahu betapa baik hatinya Pak Endy. Malam itu, kami malah menertawai bagaimana aku sering kena omel karena jarang ke kantor. “Kamu kan wartawan, kerja kamu ya di lapangan. Buang-buang waktu kalau kamu harus ke kantor. Yang mesti ke kantor ya redaktur-redaktur kamu,” ujarnya sambil tertawa. (Tapi aku tetap salah sih soalnya bagaimanapun juga aku harus tetap muncul setor muka).
Tapi, agaknya, Mbak Yo jauh lebih tegang dan khawatir denganku. Tidak enak hati karena aku harus liputan besar tiba-tiba di luar jam kerja, mendampingi seorang penting untuk bertemu dengan seorang pemimpin global.
“Anggi kamu sudah makan belum?” tanya Mbak Yo, berdiri di sampingku yang tengah sibuk dengan layar komputerku.
“Belum, Mbak,” jawabku singkat tanpa pikir panjang, sambil menyelesaikan tulisan yang harus aku selesaikan sebelum berangkat liputan. Toh, aku juga tidak terbiasa makan malam.
The next thing I know, aku melihat Mbak Yo sibuk berkeliling ruangan, menyapa orang-orang di cubicle mereka masing-masing. “Oh, Mbak Yo sedang sibuk koordinasi berita, pikirku.”
Tak lama, Mbak Yo kembali ke mejaku, terengah, dengan membawa tiga potong roti. “Syukurlah, Evi masih ada sisa roti. Ini kamu bawa ya Anggi, sebagai bekal di jalan. Jangan sampai liputan dengan perut kosong.”
Lagi-lagi aku cuma bisa bengong. Berusaha tidak menangis terharu. Mbak Yo, how far would you go to help others?
Mbak Yo, malam itu Pak Endy menraktirku makan. Mbak Yo, setelah kami sampai ke hotel tempat liputannya, ternyata kami dijamu full course dan aku dan Pak Endy hanya bisa tertawa. “Harusnya tadi kita tidak usah makan,” kata Pak Endy. Bukan main penuhnya perutku waktu aku pulang. Tapi, roti yang sudah mbak Yo carikan dengan susah payah itu tetap aku makan menjelang aku naik kasur dan tidur. Aku minta Zaki juga untuk bantu menghabiskan. Aku tak tahu lagi harus berterima kasih dengan cara apa selain memakannya di hari yang sama.
Mbak Yo, aku ingat betul pertemuan terakhir kita adalah tanggal 27 Juli 2016. Saat itu, Mbak Yo tengah pusing dengan rencana pemerintah untuk mengeksekusi mati WNA terpidana kasus narkoba. Aku tahu Mbak Yo sangat menentang putusan ini. I know you questioned this decision morally and saw it as political-based.
Tetapi, aku bisa lihat Mbak Yo bisa rileks sejenak hari itu. Hari itu, jadwal kita adalah mewawancari Duta Besar Inggris untuk Indonesia saat itu, Moazzam Malik. Aku tahu Mbak Yo mengagumi beliau. Sesi wawancara kita dengan beliau berakhir dengan fangirling dan minta foto. Aku ingat kita foto bertiga, diambil dengan ipad Mbak Yo.
Mbak Yo, waktu itu aku ingin minta fotonya. Tapi aku berpikir, “ah besok saja, kan masih ketemu.”
Mbak Yo, saat itu aku tidak sadar betapa aku menyepelekan waktu dan usia manusia. Karena esoknya, aku pun masih berpikir untuk menunda pertemuanku dengan Mbak Yo. Sungguh tak terlintas di kepalaku bahwa Mbak Yo akan dipanggil Tuhan esok harinya. Sekarang, aku sungguh menginginkan foto itu Mbak Yo. Itu kenangan terakhirku dengan Mbak Yo. Aku terlambat Mbak Yo, aku sekarang tidak tahu harus mencarinya di mana.
Tanggal 28 Juli adalah liputan terakhirku yang telah mengajukan surat resign dan menghabisku cutiku di penghujung masa kerjaku. Aku ingat saat itu aku liputan malam. Aku ingat berjanji menemui Mbak Yo dan Mas Novan sepulangnya dari liputan, untuk berpamitan. Tetapi, aku memutuskan untuk menulis dari jauh dulu sebelum ke kantor, takut nanti terlalu mepet dengan deadline. Usai menulis, aku merasa lelah. Aku ingin tidur dan beristirahat. Di sini, lagi-lagi aku menyepelakan umur dan waktu manusia. Mbak Yo, yang selalu berada di kantor pagi-pagi dan pulang tengah malam setelah aku meninggalkan kantor, tentunya jauh lebih lelah dariku. Aku menggampangkan, Mbak Yo. Aku tak tahu sampai kapan aku akan merasa bersalah. Mungkin, seumur hidup aku akan dikutuk oleh penyesalan ini.
“Mbak Yo, saya ke kantornya besok saja ya, Mbak. Sekalian pamitan dan ambil barang,” kataku lewat WhatsApp.
Aku tidak tahu Mbak Yo sempat membacanya atau tidak. Aku juga tidak tahu bahwa Mbak Yo rupanya menungguiku seharian di kantor. Yang aku tahu, Mbak Yo akhirnya bergegas pulang karena aku tak muncul-muncul dan Mbak Yo ada janji malam itu. Yang aku tahu, ketika aku bangun esok harinya, tidak ada balasan dari Mbak Yo. Yang ada adalah kabar dukacita dan banjir ungkapan bela sungkawa di grup kantor. Bahwa rupanya, tak lama Mbak Yo meninggalkan kantor, Mbak Yo berpulang.
Aku menangis sejadi-jadinya. Aku sedih kehilangan sosok yang penting bagiku di hari-hari terakhirku di kantor. Aku menyesal tidak datang malamnya. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal ke Mbak Yo, tapi bukan selamat tinggal seperti ini yang aku bayangkan. Di layatan Mbak Yo, mungkin aku orang yang menangis paling kencang. Terus terang, ini membuatku malu dan takut melukai perasaan keluarga dan teman-teman dekat Mbak Yo. Mbak Yo orang baik, banyak orang yang mengagumi Mbak Yo. Tapi penyesalan ini, Mbak Yo, tak lagi terkontrol dan aku tak tahu harus bagaimana.
Mbak Yo, mungkin buat Mbak Yo aku hanyalah anak buah biasa. Tapi buat aku, Mbak Yo adalah orang luar biasa yang menjadi pengaruh besar buatku, yang akan selamanya aku kenang dalam hatiku. Mbak Yo menjadi sandaranku ketika aku limbung dalam kerjaanku. Mbak Yo mengajarkanku tentang passion. Mbak Yo mengajarkan ke aku bagaimana berharganya ucapan terima kasih dan maaf. Mbak Yo mengajarkan bagaimana besarnya efek dari kebaikan-kebaikan kecil. Mbak Yo, beribu ucapan terima kasih pun tak akan cukup untuk menggambarkan betapa bersyukurnya aku pernah berada di bawah bimbingan Mbak Yo.
Harusnya, Mbak Yo, malam itu aku datang untuk menyampaikan ini semua.
Mbak Yohanna. Maaf aku tidak muncul di malam itu. Hingga hari ini, aku masih mengutuki diriku sendiri. Mbak Yo, maaf aku tidak memenuhi janjiku untuk saling mendukung. Mbak Yo, maaf aku meninggalkan kantor di saat desk kita sedang sibuk-sibuknya. Mbak Yo, maafkan aku tidak sempat mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Mbak Yo, maaf.
Mbak Yo, lewat tulisan ini aku berharap bahwa penyesalan dan kesedihanku tidak akan lagi mengganggu Mbak Yo di alam sana. Mbak Yo, aku akan belajar menjadi lebih kuat, seperti yang sudah kujanjikan ke Mbak Yo di hari pertamaku bekerja dibawah Mbak Yo. Aku mungin masih terlalu egois sekarang, tapi jika aku suatu hari mendapat kesempatan berada di posisi Mbak Yo, aku ingin melanjutkan legacy Mbak Yo untuk tidak lupa mengucapkan maaf dan terima kasih dan melakukan kebaikan-kebaikan kecil yang nyata dampaknya.
Mbak Yo, beristirahatlah dalam damai. Maaf, dan terima kasih, Mbak.
Anggi
*Link dalam tulisan ini dikumpulkan sebagai memento selama aku berkerja bersama Mbak Yohanna. Seandainya aku tidak pernah bekerja dalam sektor ini, aku tidak akan pernah tahu bahwa di balik semua berita, ada interaksi antar manusia yang kadang tak ternilai harganya.


Leave a comment