Yes, you read the title right.
Steril itu tidaklah sejahat yang kamu bayangkan. Bahkan, steril bisa membantu kucingmu untuk hidup lebih baik dan panjang umur.
Daripada aku sok jadi profesional yang seakan paham betul soal kucing, aku mau bercerita dari pengalamanku sendiri saja.
Sebelum kucingku berkembang biak menjadi lima ekor, aku hanya memelihara Ryu dan Leslie saja. Ryu adalah kucing jantan tabby berwarna cokelat yang tampan dan mempesona dan Leslie adalah kucing betina kembang telon yang syantik dan baik hatinya.
Seperti yang aku ceritakan di unggahan sebelumnya, Ryu sempat menderita pneumonia. Saat itu, badan Ryu kurus kering padahal makannya selalu lahap. Matanya kerap belekan. Dia juga tidak pernah bergairah untuk main padahal kami rajin membelikannya mainan. Kerjanya sehari-hari hanya tidur, makan, dan buang air. Atau, ketika birahi, meraung-raung minta keluar sepanjang malam dan pipis sembarangan.
Sebetulnya, pada saat itu kami sudah berpikir apakah sebaiknya Ryu disteril saja. Tapi, untuk mensteril butuh keputusan besar dan keberanian, sementara kami sendiri masih bergulat tentang keuntungan, kerugian, serta pertimbangan dari kacamata agama. Selain itu, Ryu hanya bisa disteril ketika dia sudah sembuh total. Butuh waktu sekitar enam bulan untuk menyembuhkan Ryu. Kami harus membawanya ke vet dua minggu sekali, dan obatnya tidak boleh putus seharipun sampai dia dinyatakan bersih.
Ketika Ryu akhirnya sembuh, Ryu dan Leslie memasuki usia matang untuk bereproduksi. Tentu saja, gelombang hasrat membuat mereka tidak bisa terhindar maksiat, mwahaha. Di titik ini, kami sempat berpikir, sanggupkah kami untuk memelihara tambahan kucing? Bisa saja kalau nanti Leslie beranak, kami melepaskan anak-anak mereka pada adopter baik hati. Tapi sanggupkah kami yang lemah hati ini melakukan itu? Lalu, bagaimana menghindarkan Ryu dan Leslie untuk tidak saling kawin mawin lagi? Memisahkan mereka di ruangan berbeda terlalu repot dan jahat rasanya, apalagi melepaskan salah satu dari mereka ke adopter lain sementara mereka sudah besar dan sudah nyaman bersama kami.
Sebelum kami sempat memikirkan jawaban, Leslie terlanjur bunting. Okelah, kupikir. Kalau anaknya dua, aku bisa pelihara semua. Kalau anaknya tiga atau empat, bisa aku lepas seekor dua ekor. Aku berdoa mudah-mudahan aku sanggup melakukannya. Tapi apa daya, anak Leslie ternyata lima. Luar biasa sekali indukan mungil ini membuat mamak manusianya kebingungan.
Hari-hari pertama sungguh penuh perjuangan. Dalam semalam, kami tiba-tiba punya tujuh ekor kucing. Bagaimana kalau ada di antara mereka ada yang tidak kebagian susu? Memastikan mereka bertahan hidup di hari-hari pertama yang keras adalah misi kami. Kami sibuk cari susu pengganti dan botol susu hewan sebagai antisipasi. Kami juga berjaga untuk memastikan kelima bola bulu ini kebagian puting. Sudah itu, Leslie harus menyusui di tempat ber-AC. Kalau tidak, ia akan kepanasan dan menolak menyusui. Terpaksalah kami merelakan kamar kami dan tidur di luar.
Ryu juga menjadi perhatian kami. Ia terus menerus birahi dan Leslie tidak mau dikawini karena dia menyusui. Kalau sudah birahi dan tidak terpenuhi, ia pasti kembali sakit flu dan ini meresahkan kami. Kami takut pneumonianya kumat dan menulari nakcing-nakcing yang tidak berdosa. Belum lagi raungan dan pipis sembarangannya yang semakin jadi. Hasil riset kami, kucing jantan yang belum disteril bisa saja agresif terhadap anak-anak kucing yang baru lahir, apalagi kalau di antaranya ada yang jantan. Ia juga bisa saja memaksa mengawini kucing-kucing kecil yang betina. Walaupun Ryu cenderung, emm, keibuan dengan lima bola bulu kecil tersebut, kami tetap merasa bahwa kami harus mengambil tindakan antisipatif.
Tindakan antisipatif juga harus diambil karena, pertama, bisa saja Ryu akan mengawini Leslie lagi dan kami akan kelimpungan membesarkan lebih banyak kucing. Kami akhirnya memutuskan untuk melepaskan satu nakcing jantan dan satu nakcing betina kami ke adopters, demi bisa membagi kasih sayang secara merata dan menghindari potensi wabah yang sulit dikontrol. Bukan kepalang rasa sedihnya melepaskan nakcing-nakcing yang sudah kami rawat sampai lepas ASI (Leslie-nya sih tidak peduli). Kami trauma dan tak mau lagi.
Kedua, kami kasihan melihat Ryu yang terus menerus sakit setiap birahi. Membiarkannya keluar mencari pasangan bukanlah pilihan. Kemungkinan diculik, hilang, atau terkena celaka selalu ada. Selain itu, mengingat bulu panjangnya, dia bukan kucing yang gampang beradaptasi dengan lingkungan luar. Bisa saja dia pulang membawa jamur dan penyakit yang membahayakan dirinya dan kucing-kucing lain di rumah. Selain itu, kucing di dunia ini sudah kelebihan populasi. Sulit bagi mereka untuk mencari makan dan bertahan hidup di tengah sedikitnya buruan dan berkembangnya peradaban.
Akhirnya, kami mulai baca-baca lebih banyak dan hasilnya selalu sama: steril. Steril, menurut bacaan kami, membantu kucing untuk lebih sehat dan mengurangi agresifitas mereka. Setelah menimbang baik dan kurangnya — yang akan aku elaborasi di bawah — kami memutuskan untuk menguatkan hati mensteril Ryu.
Hasilnya? Ryu sekarang jauh lebih sehat. Ia tidak lagi sebentar-sebentar sakit setiap birahi. Tidak ada lagi cerita Ryu mengamuk depan pintu rumah minta keluar, apalagi pipis sembarangan. Yang bikin kami takjub, Ryu yang dulu hanya tidur-makan-buang air-birahi kini jadi aktif, lincah, responsif, penyayang, dan hobi main. Walaupun, dia lebih suka tali rafia daripada mainan yang sudah mahal-mahal kami belikan, huh. Ryu tidak pernah lagi terlihat stress dan angot-angotan di pojokan. Bulunya juga mekar sempurna dan dia bertumbuh sampai titik maksimalnya.
Bahagia deh rasanya melihat Ryu. Ini juga yang membuat kami memutuskan untuk mensteril dua bocah jantan lain yang masih tersisa di rumah.
Untuk membantu teman-teman mempertimbangkan dengan lebih baik soal steril-mensteril ini, ada dua artikel yang membantu menguatkan aku untuk mensteril Ryu, yaitu artikel ini dan ini. Tapi kalau kalian malas buka link, di bawah ini ada rangkuman yang kutambahi dengan pengalamanku sendiri:
Apa sih keuntungannya?
Dari berbagai sumber, steril meningkatkan imunitas kucing, mengurangi kadar stress, dan memperpanjang umurnya. Mereka juga tidak lagi terganggu dengan sebentar-sebentar birahi. Agresifitas mereka untuk minta keluar berantem juga akan menurun. Mereka juga tidak akan lagi menandai tempat dengan pipis mereka. Kalau kalian memelihara dua ekor kucing jantan, kalian tidak perlu lagi pusing mereka akan tawuran berebut jadi raja ketika dewasa. Kalau kalian memelihara kucing dengan jenis kelamin berbeda, kalian juga tidak akan kelimpungan secara finansial, waktu, dan tenaga untuk membesarkan kucing-kucing tambahan atau mencari rumah baru untuk mereka.
Apa sih kerugiannya?
Dari sudut pandangku sebagai manusia, tidak ada. Kalau melihat Ryu dan anak-anaknya sehari-hari, tidak ada juga.
Nanti dia tidak merasa jantan/betina lagi dong?
Aduh maaf, kucing tidak mengenal model gender seperti manusia yang sebentar-bentar nge-tweet “cewek begini, cowok begitu”.
Katanya mereka nanti jadi berubah penyedih/cepat gemuk ya?
Tidak terjadi di Ryu dan anak-anaknya. Kalaupun terjadi, biasanya tidak lama-lama dan lebih karena mereka bingung dengan rutinitas yang hilang dari birahi. Setelah itu, mereka justru akan menunjukkan kepribadian asli mereka.
Ryu memang jadi gemuk, tapi bocah-bocah yang lain biasa saja. Perkara gemuk ini, itu adalah kewajiban kita sebagai ownernya untuk mengajak mereka main dan belorahga agar tidak kelebihan berat badan.
Bukannya itu menyiksa hewan?
Untuk steril jantan, operasinya kecil dan mereka dibius. Biasanya, ketika biusnya hilang mereka juga tidak merasakan apa-apa. Hanya saja, mereka harus dijaga selama beberapa hari agar tidak sembarang loncat karena bisa membuat jahitan atau lem mereka terbuka. Steril betina memang operasi besar, tapi asal mereka dirawat baik, mereka bisa beraktivitas seperti biasa ketika lukanya kering.
Sejujurnya, menurutku lebih menyiksa kalau kalian membiarkan kucingmu birahi, berkeliaran di jalan, atau mengawinkan mereka terus-menerus. Buat kucing betina, ini meningkatkan resiko kanker rahim. Selain itu, yakinkah bahwa kalian sanggup menemukan adopter yang baik buat nakcing-nakcingmu? Kalian yakin sanggup memberi kasih sayang dan tidak kelimpungan kalau mau memelihara mereka semua? Bagaimana kalau kucing kalian nanti incest dan menghasilkan anak-anak cacat? Kalian yakin kalian tidak akan berujung membuang mereka karena kewalahan? Ini baru namanya siksaan.
Bukannya mereka baiknya punya anak dulu ya?
Tidak ada bedanya, sebenarnya. Semakin cepat disteril malah semakin baik karena mereka belum mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang muncul dari birahi. Lagipula, di dunia kucing tidak ada yang rese bertanya, “jeung, kapan nih punya anak?”
Kan dosa?
Untuk agama, aku tidak mau membahas, ya. Tidak mau SARA dan tidak mau berdebat soal ini. Yang jelas, dari riset kami dan kebijaksanaan Zaki sebagai bekas santri, kami memutuskan ini aman ditempuh.
***
Barangkali, pertanyaan-pertanyaan di atas bisa mementahkan mitos soal mensteril kucing dan membantu teman-teman membuat keputusan. Pada akhirnya, semua kembali ke kepercayaan masing-masing, ya. Kalau kalian ragu dari sisi harga, banyak steril bersubsidi kalau kalian mau cari-cari. Selain itu, pikir jangka panjang deh: lebih berat di ongkos dan di hati kalau kucing kalian sampai sakit dan kenapa-kenapa.
Oke, sekian. Akhir kata, salam dari Leslie:
![IMG-20200105-WA0009[299]](https://jijilubis.blog/wp-content/uploads/2020/05/img-20200105-wa0009299.jpg?w=864&h=1152)


Leave a comment