
Delapan tahun lalu, saat aku masih bekerja di suatu media nasional, selepas senja, seperti biasa, aku menikmati kopi di salah satu sudut coffee shop favorit dekat gelanggang olahraga Jakarta. Sendiri, apakah menanti teman saat itu, aku lupa. Yang aku ingat, aku bertemu seorang teman yang duduk terpisah dariku, kemudian ada seorang perempuan muda masuk ke coffeeshop tersebut terburu-buru dan duduk di sofa bersama temanku. Ia cantik, berambut pendek, pakaiannya sederhana, tidak ada yang istimewa dari pakaiannya, wajahnya bulat dan bibirnya pink tanpa lipstick. Sesaat setelahnya, muncul seorang laki-laki berparas manis yang bergabung dengan mereka dan, pada saat itu, aku hanya berpikir “ceweknya cantik tapi cowoknya biasa aja”.
Pada waktu yang bersamaan, teman-teman kerjaku sedang membicarakan satu gadis cantik yang bekerja di media berbahasa asing. Salah satu teman kerjaku menyukainya, kata teman-temanku. “Namanya Anggi”.
Beberapa saat setelahnya, pada saat konferensi pers di Kementerian Perdagangan, aku melihat perempuan cantik itu…
View original post 979 more words


Leave a comment